Mengikuti lomba adalah pengalaman yang menegangkan sekaligus mengasyikkan. Momen persiapan, kompetisi, hingga pengumuman pemenang memberikan kenangan yang tak terlupakan untuk diceritakan.

Bagi kamu yang sedang belajar bahasa Inggris, menceritakan pengalaman mengikuti lomba dalam bentuk recount text adalah cara efektif untuk melatih kemampuan menulis. Artikel ini menyajikan 8 contoh recount text tentang pengalaman mengikuti berbagai lomba lengkap dengan terjemahannya.

Contoh 1: Recount Text Pengalaman Mengikuti Lomba Pidato Bahasa Inggris

Last month, I participated in an English speech competition held at the district level. It was my first time competing outside my school, and I was both excited and nervous.

I had been preparing for this competition for two months. My English teacher helped me write and memorize my speech about environmental conservation.

Every day after school, I practiced in front of the mirror. I also recorded myself to check my pronunciation and gestures.

On the day of the competition, I woke up early and reviewed my speech one last time. My parents drove me to the venue, a large auditorium in the city center.

When I arrived, I saw many students from different schools. Some of them looked confident, while others seemed as nervous as I was.

I was the seventh participant out of fifteen. While waiting for my turn, my heart was pounding so fast.

When my name was called, I walked to the stage with trembling legs. I took a deep breath and began my speech.

Surprisingly, once I started speaking, my nervousness disappeared. I delivered my speech with passion and made eye contact with the judges.

After all participants had finished, we waited anxiously for the results. The judges took about an hour to deliberate.

When they announced that I won second place, I could not believe my ears. I walked to the stage to receive my trophy and certificate with tears of joy.

This experience taught me that hard work and preparation really pay off. I am now more confident in my English speaking abilities.

Terjemahan:

Bulan lalu, saya mengikuti lomba pidato bahasa Inggris yang diadakan di tingkat kecamatan. Ini pertama kalinya saya berkompetisi di luar sekolah, dan saya merasa bersemangat sekaligus gugup.

Saya sudah mempersiapkan kompetisi ini selama dua bulan. Guru bahasa Inggris saya membantu menulis dan menghafal pidato tentang pelestarian lingkungan.

Setiap hari setelah sekolah, saya berlatih di depan cermin. Saya juga merekam diri sendiri untuk memeriksa pelafalan dan gerakan tubuh.

Pada hari kompetisi, saya bangun pagi dan mengulang pidato untuk terakhir kalinya. Orang tua saya mengantar ke tempat lomba, sebuah auditorium besar di pusat kota.

Ketika saya tiba, saya melihat banyak siswa dari berbagai sekolah. Beberapa dari mereka terlihat percaya diri, sementara yang lain tampak sama gugupnya dengan saya.

Saya adalah peserta ketujuh dari lima belas orang. Sambil menunggu giliran, jantung saya berdebar sangat kencang.

Ketika nama saya dipanggil, saya berjalan ke panggung dengan kaki gemetar. Saya menarik napas dalam-dalam dan memulai pidato.

Mengejutkannya, begitu saya mulai berbicara, kegugupan saya hilang. Saya menyampaikan pidato dengan penuh semangat dan melakukan kontak mata dengan juri.

Setelah semua peserta selesai, kami menunggu hasil dengan cemas. Para juri membutuhkan sekitar satu jam untuk berunding.

Ketika mereka mengumumkan bahwa saya menang juara kedua, saya tidak percaya. Saya berjalan ke panggung untuk menerima piala dan sertifikat dengan air mata bahagia.

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa kerja keras dan persiapan benar-benar membuahkan hasil. Saya sekarang lebih percaya diri dalam kemampuan berbicara bahasa Inggris.

Contoh 2: Recount Text Pengalaman Mengikuti Lomba Cerdas Cermat

Two weeks ago, my school sent a team of three students, including me, to participate in a science quiz competition. The competition was held at the provincial level, and we represented our district.

We had been training intensively for three months before the competition. Our science teachers gave us extra lessons every afternoon.

We studied various topics, from physics and chemistry to biology and astronomy. We also practiced answering questions quickly and accurately.

On the competition day, we traveled to the provincial capital by bus. The journey took about four hours, and we used the time to review our notes.

The competition venue was a big convention hall with many teams from different districts. There were twenty teams competing for the championship.

The competition consisted of three rounds: individual, group, and speed rounds. Each round had different rules and scoring systems.

In the first round, each team member had to answer questions individually. I managed to answer most of my questions correctly.

The group round was more challenging because we had to discuss and agree on answers within a limited time. Teamwork was essential in this round.

The speed round was the most exciting part. We had to buzz in and answer as fast as possible.

After all rounds were completed, we were in third place. We were a bit disappointed because we had hoped for first place.

However, our teachers reminded us that reaching the top three at the provincial level was already a great achievement. We returned home feeling proud of our efforts.

Terjemahan:

Dua minggu lalu, sekolah saya mengirim tim tiga siswa, termasuk saya, untuk mengikuti lomba cerdas cermat sains. Kompetisi diadakan di tingkat provinsi, dan kami mewakili kabupaten kami.

Kami sudah berlatih intensif selama tiga bulan sebelum kompetisi. Guru-guru sains kami memberikan pelajaran tambahan setiap sore.

Kami mempelajari berbagai topik, dari fisika dan kimia hingga biologi dan astronomi. Kami juga berlatih menjawab pertanyaan dengan cepat dan akurat.

Pada hari kompetisi, kami pergi ke ibu kota provinsi dengan bus. Perjalanan memakan waktu sekitar empat jam, dan kami menggunakan waktu itu untuk mengulang catatan.

Tempat kompetisi adalah aula konvensi besar dengan banyak tim dari berbagai kabupaten. Ada dua puluh tim yang bersaing untuk kejuaraan.

Kompetisi terdiri dari tiga babak: individu, kelompok, dan babak kecepatan. Setiap babak memiliki aturan dan sistem penilaian yang berbeda.

Di babak pertama, setiap anggota tim harus menjawab pertanyaan secara individu. Saya berhasil menjawab sebagian besar pertanyaan dengan benar.

Babak kelompok lebih menantang karena kami harus berdiskusi dan menyetujui jawaban dalam waktu terbatas. Kerja tim sangat penting di babak ini.

Babak kecepatan adalah bagian paling seru. Kami harus menekan tombol dan menjawab secepat mungkin.

Setelah semua babak selesai, kami berada di posisi ketiga. Kami agak kecewa karena berharap mendapat juara pertama.

Namun, guru-guru kami mengingatkan bahwa mencapai tiga besar di tingkat provinsi sudah merupakan prestasi hebat. Kami pulang dengan bangga atas usaha kami.

Contoh 3: Recount Text Pengalaman Mengikuti Lomba Lari Marathon

Last Sunday, I participated in my first marathon race in my city. It was a 10-kilometer fun run organized by the local government to promote healthy lifestyle.

I had been training for this marathon for two months. Every morning, I woke up at 5 AM and jogged around my neighborhood.

Gradually, I increased my running distance from 2 kilometers to 8 kilometers. I also watched my diet and drank plenty of water.

On the race day, I arrived at the starting point at 5:30 AM. Thousands of participants had already gathered, wearing colorful running shirts.

The atmosphere was very lively with music playing and people warming up. I did some stretching exercises to prepare my muscles.

At exactly 6 AM, the race began. The crowd started running together, and I paced myself carefully.

The first few kilometers felt easy, and I enjoyed the scenery along the route. The streets were lined with supporters cheering for the runners.

However, around the 7-kilometer mark, I started to feel tired. My legs were heavy, and I wanted to stop.

I remembered my training and pushed through the pain. I kept telling myself that I could do it.

When I saw the finish line, I gathered all my remaining energy and sprinted. I crossed the finish line with a time of 58 minutes.

I did not win any prize, but I felt like a champion. Completing my first marathon was a personal victory that I will never forget.

Terjemahan:

Minggu lalu, saya mengikuti lomba marathon pertama di kota saya. Itu adalah fun run 10 kilometer yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah untuk mempromosikan gaya hidup sehat.

Saya sudah berlatih untuk marathon ini selama dua bulan. Setiap pagi, saya bangun jam 5 pagi dan jogging di sekitar lingkungan rumah.

Secara bertahap, saya meningkatkan jarak lari dari 2 kilometer menjadi 8 kilometer. Saya juga menjaga pola makan dan minum banyak air.

Pada hari lomba, saya tiba di titik start jam 5:30 pagi. Ribuan peserta sudah berkumpul, mengenakan kaos lari warna-warni.

Suasananya sangat meriah dengan musik yang diputar dan orang-orang melakukan pemanasan. Saya melakukan beberapa latihan peregangan untuk mempersiapkan otot.

Tepat jam 6 pagi, lomba dimulai. Kerumunan mulai berlari bersama, dan saya mengatur kecepatan dengan hati-hati.

Beberapa kilometer pertama terasa mudah, dan saya menikmati pemandangan sepanjang rute. Jalanan dipenuhi pendukung yang memberi semangat para pelari.

Namun, sekitar kilometer ke-7, saya mulai merasa lelah. Kaki saya berat, dan saya ingin berhenti.

Saya mengingat latihan saya dan terus berjuang melewati rasa sakit. Saya terus mengatakan pada diri sendiri bahwa saya bisa melakukannya.

Ketika saya melihat garis finish, saya mengumpulkan semua energi yang tersisa dan berlari sprint. Saya melewati garis finish dengan waktu 58 menit.

Saya tidak memenangkan hadiah apapun, tapi saya merasa seperti juara. Menyelesaikan marathon pertama adalah kemenangan pribadi yang tidak akan pernah saya lupakan.

Contoh 4: Recount Text Pengalaman Mengikuti Lomba Menyanyi

Three months ago, I auditioned for a singing competition at the annual city festival. Singing has always been my passion, and I wanted to test my abilities on a bigger stage.

I chose to sing a popular Indonesian ballad for my audition. I practiced the song every day until I knew every note perfectly.

My vocal coach helped me improve my breathing technique and stage presence. She also gave me tips on how to control my nervousness.

On the audition day, I arrived at the venue with my mother. There were hundreds of participants waiting for their turn.

When I finally got on stage, the bright lights almost blinded me. I could barely see the judges sitting in front of me.

I closed my eyes, took a deep breath, and started singing. I poured all my emotions into the song.

When I finished, there was a moment of silence. Then, the audience started clapping, and I felt relieved.

A week later, I received a call informing me that I had passed the audition. I was selected as one of the twenty finalists.

The final round was held at the city square with thousands of spectators. I was so nervous that my hands were shaking.

I performed my best and received positive comments from the judges. Although I did not win, reaching the finals was already beyond my expectations.

This experience opened many doors for me. I was invited to perform at several local events and even got offers from music studios.

Terjemahan:

Tiga bulan lalu, saya mengikuti audisi kompetisi menyanyi di festival tahunan kota. Menyanyi selalu menjadi passion saya, dan saya ingin menguji kemampuan di panggung yang lebih besar.

Saya memilih menyanyikan lagu balada Indonesia populer untuk audisi. Saya berlatih lagu itu setiap hari sampai hafal setiap nadanya.

Pelatih vokal saya membantu meningkatkan teknik pernapasan dan penampilan panggung. Dia juga memberi tips cara mengendalikan kegugupan.

Pada hari audisi, saya tiba di tempat lomba bersama ibu. Ada ratusan peserta menunggu giliran mereka.

Ketika akhirnya saya naik panggung, lampu terang hampir menyilaukan mata. Saya hampir tidak bisa melihat juri yang duduk di depan.

Saya menutup mata, menarik napas dalam-dalam, dan mulai bernyanyi. Saya menuangkan semua emosi ke dalam lagu.

Ketika saya selesai, ada momen hening. Kemudian, penonton mulai bertepuk tangan, dan saya merasa lega.

Seminggu kemudian, saya menerima telepon yang memberitahu bahwa saya lolos audisi. Saya terpilih sebagai salah satu dari dua puluh finalis.

Babak final diadakan di alun-alun kota dengan ribuan penonton. Saya sangat gugup sampai tangan saya gemetar.

Saya tampil sebaik mungkin dan menerima komentar positif dari juri. Meskipun tidak menang, mencapai final sudah melampaui ekspektasi saya.

Pengalaman ini membuka banyak pintu bagi saya. Saya diundang tampil di beberapa acara lokal dan bahkan mendapat tawaran dari studio musik.

Contoh 5: Recount Text Pengalaman Mengikuti Lomba Debat Bahasa Inggris

Last semester, I joined the English debate club at my university and participated in my first debate competition. The competition was a regional event with teams from ten different universities.

Our team consisted of three members, and I was assigned as the third speaker. My role was to deliver the closing arguments and rebuttals.

We prepared for weeks, researching various topics and practicing our arguments. Our coach was very strict and pushed us to think critically.

The motion for our first round was about social media regulation. We were on the affirmative side, arguing that the government should regulate social media content.

I was extremely nervous when we entered the debate room. The opposing team looked very experienced and confident.

The debate started, and I listened carefully to all the arguments. I took notes to prepare my rebuttals.

When it was my turn to speak, I stood up and delivered my speech with conviction. I attacked the opposing team’s weakest points and reinforced our arguments.

After the debate, the adjudicators gave their feedback. They praised my rebuttal skills but suggested I work on my time management.

We won our first two rounds but lost in the semifinals. It was disappointing, but we learned so much from the experience.

This competition improved my critical thinking and public speaking skills tremendously. I am now preparing for the national competition next year.

Terjemahan:

Semester lalu, saya bergabung dengan klub debat bahasa Inggris di universitas dan mengikuti kompetisi debat pertama saya. Kompetisi ini adalah acara regional dengan tim dari sepuluh universitas berbeda.

Tim kami terdiri dari tiga anggota, dan saya ditugaskan sebagai pembicara ketiga. Peran saya adalah menyampaikan argumen penutup dan sanggahan.

Kami mempersiapkan selama berminggu-minggu, meneliti berbagai topik dan melatih argumen kami. Pelatih kami sangat ketat dan mendorong kami untuk berpikir kritis.

Mosi untuk babak pertama kami adalah tentang regulasi media sosial. Kami berada di pihak afirmatif, berargumen bahwa pemerintah harus mengatur konten media sosial.

Saya sangat gugup ketika kami memasuki ruang debat. Tim lawan terlihat sangat berpengalaman dan percaya diri.

Debat dimulai, dan saya mendengarkan semua argumen dengan cermat. Saya mencatat untuk mempersiapkan sanggahan.

Ketika giliran saya berbicara, saya berdiri dan menyampaikan pidato dengan penuh keyakinan. Saya menyerang titik terlemah tim lawan dan memperkuat argumen kami.

Setelah debat, juri memberikan umpan balik. Mereka memuji kemampuan sanggahan saya tapi menyarankan untuk memperbaiki manajemen waktu.

Kami menang dua babak pertama tapi kalah di semifinal. Itu mengecewakan, tapi kami belajar banyak dari pengalaman ini.

Kompetisi ini sangat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan berbicara di depan umum. Saya sekarang mempersiapkan kompetisi nasional tahun depan.

Baca Juga: 7 Contoh Recount Text Liburan ke Gunung Beserta Terjemahan

Contoh 6: Recount Text Pengalaman Mengikuti Lomba Menulis Cerpen

During the school holiday last year, I entered a short story writing competition organized by a national newspaper. The theme was “Friendship in the Digital Age.”

I spent two weeks brainstorming ideas for my story. I wanted to write something unique that would stand out among thousands of entries.

Finally, I decided to write about two teenagers who became best friends through an online game but had never met in person. The story explored their journey to finally meet face to face.

I wrote the first draft in three days. Then, I revised it multiple times, improving the plot, dialogue, and descriptions.

My mother, who is an avid reader, helped me proofread my story. She gave valuable suggestions that made my story much better.

I submitted my story just one day before the deadline. Then, I waited nervously for the results, which would be announced two months later.

During the waiting period, I almost forgot about the competition. I was busy with school activities and exams.

One evening, I received an email notification. My heart raced as I opened it, and I screamed with joy when I read the content.

My story had won third place out of more than 5,000 entries nationwide. I could not believe that my writing was recognized.

The prize was a cash award and publication in the newspaper’s literary supplement. Seeing my story in print was a dream come true.

This achievement motivated me to keep writing and improving my skills. I have since entered several other competitions and won a few more prizes.

Terjemahan:

Selama libur sekolah tahun lalu, saya mengikuti lomba menulis cerpen yang diselenggarakan oleh koran nasional. Temanya adalah “Persahabatan di Era Digital.”

Saya menghabiskan dua minggu untuk mencari ide cerita. Saya ingin menulis sesuatu yang unik yang akan menonjol di antara ribuan peserta.

Akhirnya, saya memutuskan menulis tentang dua remaja yang menjadi sahabat melalui game online tapi belum pernah bertemu langsung. Cerita ini mengeksplorasi perjalanan mereka untuk akhirnya bertemu secara langsung.

Saya menulis draft pertama dalam tiga hari. Kemudian, saya merevisinya berkali-kali, memperbaiki alur, dialog, dan deskripsi.

Ibu saya, yang suka membaca, membantu mengoreksi cerita saya. Beliau memberi saran berharga yang membuat cerita saya jauh lebih baik.

Saya mengirim cerita tepat satu hari sebelum deadline. Kemudian, saya menunggu hasilnya dengan gugup, yang akan diumumkan dua bulan kemudian.

Selama masa menunggu, saya hampir lupa tentang kompetisi. Saya sibuk dengan kegiatan sekolah dan ujian.

Suatu malam, saya menerima notifikasi email. Jantung saya berdebar saat membukanya, dan saya berteriak gembira ketika membaca isinya.

Cerita saya menang juara ketiga dari lebih dari 5.000 peserta se-Indonesia. Saya tidak percaya bahwa tulisan saya diakui.

Hadiahnya adalah uang tunai dan publikasi di suplemen sastra koran. Melihat cerita saya tercetak adalah impian yang menjadi kenyataan.

Prestasi ini memotivasi saya untuk terus menulis dan meningkatkan kemampuan. Sejak itu saya sudah mengikuti beberapa kompetisi lain dan memenangkan beberapa hadiah lagi.

Contoh 7: Recount Text Pengalaman Mengikuti Lomba Fotografi

Last summer, I participated in a photography competition with the theme “Beauty in Simplicity.” It was my first serious photography competition, and I wanted to showcase my skills.

I spent weeks looking for the perfect subject to photograph. I wanted something simple yet visually striking.

One morning, I found my subject – an elderly woman selling flowers at the traditional market. Her weathered face told a thousand stories.

I approached her politely and asked if I could take her photograph. She smiled warmly and agreed.

I took dozens of shots from different angles. I played with natural lighting and shadows to create the perfect composition.

After reviewing all my photos, I selected the best one. I did some minor editing to enhance the colors and contrast.

I submitted my entry with the title “The Flower Seller’s Smile.” I felt confident about my work but knew the competition would be tough.

The results were announced at a gallery exhibition. My photo was displayed among the top twenty finalists.

When they announced that I won the best newcomer award, I was overjoyed. The judges praised my ability to capture emotion and tell a story through a single image.

I received a new camera as my prize, which I still use today. More importantly, I gained confidence in my photography skills.

This experience taught me that great photography is not about expensive equipment but about seeing beauty in ordinary moments.

Terjemahan:

Musim panas lalu, saya mengikuti kompetisi fotografi dengan tema “Keindahan dalam Kesederhanaan.” Ini adalah kompetisi fotografi serius pertama saya, dan saya ingin menunjukkan kemampuan.

Saya menghabiskan berminggu-minggu mencari subjek yang sempurna untuk difoto. Saya ingin sesuatu yang sederhana tapi menarik secara visual.

Suatu pagi, saya menemukan subjek saya – seorang wanita tua yang menjual bunga di pasar tradisional. Wajahnya yang penuh kerut menceritakan ribuan kisah.

Saya mendekatinya dengan sopan dan bertanya apakah saya boleh memfotonya. Dia tersenyum hangat dan setuju.

Saya mengambil puluhan foto dari berbagai sudut. Saya bermain dengan pencahayaan alami dan bayangan untuk menciptakan komposisi sempurna.

Setelah meninjau semua foto, saya memilih yang terbaik. Saya melakukan sedikit editing untuk meningkatkan warna dan kontras.

Saya mengirim karya dengan judul “Senyum Penjual Bunga.” Saya merasa percaya diri dengan karya saya tapi tahu kompetisinya akan ketat.

Hasilnya diumumkan di pameran galeri. Foto saya dipajang di antara dua puluh finalis teratas.

Ketika mereka mengumumkan bahwa saya menang penghargaan pendatang baru terbaik, saya sangat gembira. Juri memuji kemampuan saya menangkap emosi dan bercerita melalui satu gambar.

Saya menerima kamera baru sebagai hadiah, yang masih saya gunakan sampai sekarang. Lebih penting lagi, saya mendapat kepercayaan diri dalam kemampuan fotografi.

Pengalaman ini mengajarkan bahwa fotografi hebat bukan tentang peralatan mahal tapi tentang melihat keindahan dalam momen biasa.

Contoh 8: Recount Text Pengalaman Mengikuti Lomba Memasak

A few months ago, I entered a cooking competition at my university’s food festival. The challenge was to create an innovative dish using local ingredients within 90 minutes.

I decided to make a fusion dish combining traditional Indonesian flavors with Western cooking techniques. I practiced the recipe several times at home before the competition.

On the competition day, I arrived early to set up my cooking station. There were ten contestants, and we each had our own workspace.

When the timer started, I immediately began preparing my ingredients. I had planned every step carefully to make the most of the limited time.

I made a rendang-inspired beef Wellington with sambal matah on the side. It was a risky choice because both components required precise timing.

Halfway through, I realized I was running behind schedule. I had to adjust my plan and work faster.

The last ten minutes were the most stressful. I was plating my dish while the announcer counted down the remaining time.

I finished just seconds before the timer went off. My dish looked beautiful, and I was proud of what I had created.

The judges tasted each dish and gave their comments. They were impressed by my creativity and the balance of flavors in my dish.

I ended up winning second place and received a set of professional cooking tools. The winner was a culinary student who had much more experience than me.

This competition sparked my passion for cooking even more. I now dream of opening my own restaurant someday.

Terjemahan:

Beberapa bulan lalu, saya mengikuti kompetisi memasak di festival makanan universitas. Tantangannya adalah membuat hidangan inovatif menggunakan bahan lokal dalam 90 menit.

Saya memutuskan membuat hidangan fusion yang menggabungkan cita rasa tradisional Indonesia dengan teknik memasak Barat. Saya berlatih resepnya beberapa kali di rumah sebelum kompetisi.

Pada hari kompetisi, saya tiba lebih awal untuk menyiapkan stasiun memasak. Ada sepuluh kontestan, dan kami masing-masing memiliki area kerja sendiri.

Ketika timer dimulai, saya langsung mulai menyiapkan bahan. Saya sudah merencanakan setiap langkah dengan cermat untuk memaksimalkan waktu terbatas.

Saya membuat beef Wellington terinspirasi rendang dengan sambal matah di sampingnya. Itu pilihan berisiko karena kedua komponen membutuhkan waktu yang tepat.

Di tengah kompetisi, saya menyadari saya tertinggal jadwal. Saya harus menyesuaikan rencana dan bekerja lebih cepat.

Sepuluh menit terakhir adalah yang paling menegangkan. Saya sedang menata hidangan sementara pembawa acara menghitung mundur waktu tersisa.

Saya selesai tepat beberapa detik sebelum timer berbunyi. Hidangan saya terlihat cantik, dan saya bangga dengan apa yang saya ciptakan.

Para juri mencicipi setiap hidangan dan memberikan komentar. Mereka terkesan dengan kreativitas dan keseimbangan rasa dalam hidangan saya.

Saya akhirnya menang juara kedua dan menerima satu set peralatan masak profesional. Pemenangnya adalah mahasiswa kuliner yang memiliki pengalaman jauh lebih banyak dari saya.

Kompetisi ini semakin memicu passion saya untuk memasak. Saya sekarang bermimpi membuka restoran sendiri suatu hari nanti.

Tips Menulis Recount Text tentang Pengalaman Mengikuti Lomba

Saat menulis recount text tentang pengalaman mengikuti lomba, pastikan untuk mendeskripsikan persiapan, momen kompetisi, dan hasilnya secara detail. Ceritakan emosi yang kamu rasakan seperti gugup, tegang, senang, atau kecewa.

Gunakan simple past tense secara konsisten dan tambahkan kata penghubung waktu untuk membuat ceritamu mengalir dengan baik. Jangan lupa untuk mengakhiri dengan refleksi tentang apa yang kamu pelajari dari pengalaman tersebut.

Baca Selengkapnya: 9 Recount Text Singkat tentang Liburan + Artinya

Mengikuti lomba memberikan pengalaman berharga yang layak untuk diceritakan dalam recount text. Dengan berlatih menulis tentang pengalamanmu berkompetisi, kamu bisa meningkatkan kemampuan bahasa Inggris sambil mengabadikan momen-momen penting dalam hidupmu.

Ingin kemampuan bahasa Inggrismu semakin mahir dan percaya diri? Bergabunglah dengan Kampung Inggris Jakarta Terbaik dan rasakan pengalaman belajar yang menyenangkan bersama pengajar profesional!