Rumah sakit adalah tempat yang sering dikaitkan dengan momen-momen penting dalam hidup. Pengalaman di rumah sakit, baik sebagai pasien maupun pengunjung, memberikan pelajaran berharga yang layak untuk diceritakan.

Bagi kamu yang sedang belajar bahasa Inggris, menceritakan pengalaman di rumah sakit dalam bentuk recount text adalah cara efektif untuk melatih kemampuan menulis. Artikel ini menyajikan 5 contoh recount text tentang pengalaman di rumah sakit lengkap dengan terjemahannya.

Contoh 1: Recount Text Pengalaman Dirawat di Rumah Sakit karena Demam Berdarah

Last year during the rainy season, I was hospitalized for five days due to dengue fever. It was my first time being admitted to a hospital, and it was a scary experience.

It all started when I felt extremely tired and had a high fever. My body ached all over, and I could not even get out of bed.

My parents took me to the hospital when my fever reached 40 degrees Celsius. The doctor immediately ordered blood tests.

The test results showed that my platelet count was very low, which confirmed dengue fever. The doctor said I needed to be hospitalized right away.

I was placed in a shared room with three other patients who also had dengue fever. The nurse inserted an IV line into my arm, which was quite painful.

For the first two days, I felt miserable. I had no appetite and could only drink water and eat porridge.

The nurses came every few hours to check my temperature and blood pressure. They also drew blood samples daily to monitor my platelet count.

My parents took turns staying with me at the hospital. My mother slept on a small sofa beside my bed every night.

By the third day, I started to feel better. My fever went down, and I could finally eat some solid food.

The doctor was pleased with my progress and said I was recovering well. On the fifth day, my platelet count was back to normal, and I was discharged.

This experience taught me the importance of preventing mosquito bites and keeping our environment clean. I am now more careful about using mosquito repellent and eliminating standing water around our house.

Terjemahan:

Tahun lalu saat musim hujan, saya dirawat di rumah sakit selama lima hari karena demam berdarah. Ini pertama kalinya saya masuk rumah sakit, dan itu pengalaman yang menakutkan.

Semuanya dimulai ketika saya merasa sangat lelah dan demam tinggi. Seluruh tubuh saya sakit, dan saya bahkan tidak bisa bangun dari tempat tidur.

Orang tua membawa saya ke rumah sakit ketika demam mencapai 40 derajat Celsius. Dokter langsung memerintahkan tes darah.

Hasil tes menunjukkan trombosit saya sangat rendah, yang mengkonfirmasi demam berdarah. Dokter bilang saya harus segera dirawat.

Saya ditempatkan di kamar bersama tiga pasien lain yang juga terkena demam berdarah. Perawat memasukkan infus ke lengan saya, yang cukup menyakitkan.

Dua hari pertama, saya merasa sangat tidak enak badan. Saya tidak nafsu makan dan hanya bisa minum air dan makan bubur.

Perawat datang setiap beberapa jam untuk memeriksa suhu dan tekanan darah. Mereka juga mengambil sampel darah setiap hari untuk memantau trombosit.

Orang tua bergantian menemani saya di rumah sakit. Ibu tidur di sofa kecil di samping tempat tidur setiap malam.

Pada hari ketiga, saya mulai merasa lebih baik. Demam turun, dan akhirnya saya bisa makan makanan padat.

Dokter senang dengan kemajuan saya dan bilang saya pulih dengan baik. Pada hari kelima, trombosit kembali normal, dan saya diperbolehkan pulang.

Pengalaman ini mengajarkan pentingnya mencegah gigitan nyamuk dan menjaga lingkungan tetap bersih. Saya sekarang lebih hati-hati menggunakan obat nyamuk dan menghilangkan genangan air di sekitar rumah.

Contoh 2: Recount Text Pengalaman Menjenguk Nenek di Rumah Sakit

Two months ago, I visited my grandmother in the hospital after she had a stroke. It was one of the most emotional experiences of my life.

We received a phone call early in the morning saying that my grandmother had been rushed to the emergency room. My whole family immediately drove to the hospital.

When we arrived, my grandmother was still in the ICU. Only two people were allowed to visit at a time, so my parents went in first.

I waited anxiously in the waiting room with my siblings. The hospital smell and the sight of other worried families made me feel even more nervous.

After what felt like hours, my parents came out with red eyes. They said my grandmother was stable but could not speak or move her right side.

When it was my turn to see her, I tried to stay strong. I held her hand and told her that I loved her.

My grandmother squeezed my hand weakly, and tears rolled down her cheeks. Even though she could not speak, I knew she understood me.

We visited the hospital every day for the next two weeks. Slowly, my grandmother started to recover with the help of physical therapy.

The nurses and doctors were very kind and patient. They explained everything to us and answered all our questions.

After three weeks, my grandmother was transferred to a rehabilitation center. She had to learn how to walk and speak again.

This experience taught me how fragile life can be and how important it is to cherish our loved ones. I now make sure to call my grandmother every day and tell her how much I love her.

Terjemahan:

Dua bulan lalu, saya menjenguk nenek di rumah sakit setelah dia terkena stroke. Itu adalah salah satu pengalaman paling emosional dalam hidup saya.

Kami menerima telepon pagi-pagi sekali yang mengatakan bahwa nenek sudah dibawa ke UGD. Seluruh keluarga langsung berkendara ke rumah sakit.

Ketika kami tiba, nenek masih di ICU. Hanya dua orang yang boleh menjenguk sekaligus, jadi orang tua saya masuk lebih dulu.

Saya menunggu dengan cemas di ruang tunggu bersama saudara-saudara. Bau rumah sakit dan pemandangan keluarga lain yang khawatir membuat saya semakin gugup.

Setelah terasa seperti berjam-jam, orang tua keluar dengan mata merah. Mereka bilang nenek stabil tapi tidak bisa berbicara atau menggerakkan sisi kanan tubuhnya.

Ketika giliran saya melihatnya, saya berusaha tetap kuat. Saya memegang tangannya dan bilang bahwa saya menyayanginya.

Nenek meremas tangan saya dengan lemah, dan air mata mengalir di pipinya. Meskipun tidak bisa berbicara, saya tahu dia mengerti saya.

Kami mengunjungi rumah sakit setiap hari selama dua minggu berikutnya. Perlahan, nenek mulai pulih dengan bantuan fisioterapi.

Para perawat dan dokter sangat baik dan sabar. Mereka menjelaskan semuanya dan menjawab semua pertanyaan kami.

Setelah tiga minggu, nenek dipindahkan ke pusat rehabilitasi. Dia harus belajar berjalan dan berbicara lagi.

Pengalaman ini mengajarkan betapa rapuhnya hidup dan betapa pentingnya menghargai orang-orang yang kita cintai. Saya sekarang memastikan untuk menelepon nenek setiap hari dan memberitahu betapa saya menyayanginya.

Contoh 3: Recount Text Pengalaman Operasi Usus Buntu

Six months ago, I had to undergo an appendectomy surgery. It happened so suddenly that I did not have time to prepare mentally.

It started with a sharp pain in my lower right abdomen during class. At first, I thought it was just a stomachache.

But the pain got worse throughout the day. By evening, I was crying and could not stand up straight.

My parents rushed me to the emergency room. After examining me and doing an ultrasound, the doctor diagnosed me with acute appendicitis.

The doctor explained that my appendix was inflamed and needed to be removed immediately. I was terrified because I had never had surgery before.

Within two hours, I was being prepared for surgery. The nurses shaved my abdomen and inserted an IV line.

Before the surgery, the anesthesiologist came to explain the procedure. She said I would be asleep during the entire operation.

I remember being wheeled into the operating room and seeing bright lights above me. The next thing I knew, I woke up in the recovery room.

The surgery took about an hour, and everything went smoothly. I had three small incisions on my abdomen from the laparoscopic procedure.

The first day after surgery was the hardest. Moving was painful, and I could only eat liquid food.

I stayed in the hospital for two more days before being discharged. The doctor advised me to rest for two weeks and avoid heavy activities.

This experience made me appreciate my health more. I learned that our bodies can fail us at any time, so we should take good care of them.

Terjemahan:

Enam bulan lalu, saya harus menjalani operasi usus buntu. Itu terjadi begitu tiba-tiba sehingga saya tidak punya waktu untuk mempersiapkan mental.

Semua dimulai dengan rasa sakit tajam di perut kanan bawah saat pelajaran di kelas. Awalnya, saya pikir itu hanya sakit perut biasa.

Tapi rasa sakitnya semakin parah sepanjang hari. Menjelang malam, saya menangis dan tidak bisa berdiri tegak.

Orang tua bergegas membawa saya ke UGD. Setelah memeriksa dan melakukan USG, dokter mendiagnosis saya dengan usus buntu akut.

Dokter menjelaskan bahwa usus buntu saya meradang dan harus segera diangkat. Saya sangat takut karena belum pernah menjalani operasi sebelumnya.

Dalam dua jam, saya sudah dipersiapkan untuk operasi. Perawat mencukur perut saya dan memasang infus.

Sebelum operasi, ahli anestesi datang untuk menjelaskan prosedur. Dia bilang saya akan tertidur selama operasi berlangsung.

Saya ingat didorong masuk ke ruang operasi dan melihat lampu terang di atas. Hal berikutnya yang saya tahu, saya bangun di ruang pemulihan.

Operasi memakan waktu sekitar satu jam, dan semuanya berjalan lancar. Saya punya tiga sayatan kecil di perut dari prosedur laparoskopi.

Hari pertama setelah operasi adalah yang paling sulit. Bergerak terasa sakit, dan saya hanya bisa makan makanan cair.

Saya tinggal di rumah sakit dua hari lagi sebelum diperbolehkan pulang. Dokter menyarankan untuk istirahat dua minggu dan menghindari aktivitas berat.

Pengalaman ini membuat saya lebih menghargai kesehatan. Saya belajar bahwa tubuh kita bisa bermasalah kapan saja, jadi kita harus merawatnya dengan baik.

Baca Juga: 7 Contoh Recount Text Liburan ke Gunung Beserta Terjemahan

Contoh 4: Recount Text Pengalaman Kecelakaan dan Dirawat di Rumah Sakit

Last year, I was involved in a motorcycle accident and had to stay in the hospital for a week. It was a traumatic experience that changed my perspective on life.

The accident happened on a rainy evening when I was riding home from school. A car suddenly turned without signaling, and I could not avoid it.

I hit the car and flew off my motorcycle. I landed on the wet road and hit my head on the pavement.

I do not remember much after that. People told me that I was unconscious for several minutes before the ambulance arrived.

When I woke up, I was already in the emergency room. My head was bleeding, and my left arm was broken.

The doctors did a CT scan to check for brain injuries. Thankfully, there was no serious damage, but I had a concussion.

My arm needed surgery to insert metal plates and screws. The surgery was done the next day and lasted about three hours.

The days in the hospital were long and boring. I could not move much because of my injuries and had to rely on nurses for everything.

My family and friends visited me every day. Their support helped me stay positive during the difficult recovery process.

Physical therapy was challenging. I had to do exercises to regain strength and movement in my arm.

After a week, I was allowed to go home, but my recovery continued for several months. I had to wear a cast and attend regular check-ups.

This accident taught me to always be careful on the road and never take safety for granted. I now always wear a helmet and ride more defensively.

Terjemahan:

Tahun lalu, saya terlibat kecelakaan motor dan harus tinggal di rumah sakit selama seminggu. Itu pengalaman traumatis yang mengubah pandangan saya tentang hidup.

Kecelakaan terjadi pada malam hujan ketika saya pulang dari sekolah dengan motor. Sebuah mobil tiba-tiba berbelok tanpa memberikan sinyal, dan saya tidak bisa menghindarinya.

Saya menabrak mobil dan terlempar dari motor. Saya mendarat di jalan basah dan membenturkan kepala ke aspal.

Saya tidak ingat banyak setelah itu. Orang-orang bilang saya tidak sadarkan diri selama beberapa menit sebelum ambulans datang.

Ketika saya bangun, saya sudah di UGD. Kepala saya berdarah, dan lengan kiri saya patah.

Dokter melakukan CT scan untuk memeriksa cedera otak. Untungnya, tidak ada kerusakan serius, tapi saya mengalami gegar otak.

Lengan saya perlu operasi untuk memasukkan pelat dan sekrup logam. Operasi dilakukan keesokan harinya dan berlangsung sekitar tiga jam.

Hari-hari di rumah sakit panjang dan membosankan. Saya tidak bisa banyak bergerak karena cedera dan harus bergantung pada perawat untuk semuanya.

Keluarga dan teman mengunjungi saya setiap hari. Dukungan mereka membantu saya tetap positif selama proses pemulihan yang sulit.

Fisioterapi sangat menantang. Saya harus melakukan latihan untuk mendapatkan kembali kekuatan dan gerakan di lengan.

Setelah seminggu, saya diperbolehkan pulang, tapi pemulihan berlanjut selama beberapa bulan. Saya harus memakai gips dan menghadiri pemeriksaan rutin.

Kecelakaan ini mengajarkan untuk selalu berhati-hati di jalan dan tidak pernah menganggap remeh keselamatan. Saya sekarang selalu memakai helm dan berkendara lebih defensif.

Contoh 5: Recount Text Pengalaman Menemani Ibu Melahirkan

Three years ago, I had the privilege of being present when my mother gave birth to my youngest sibling. It was an experience that I will never forget.

My mother’s due date was still a week away, but she started having contractions early in the morning. My father immediately took her to the hospital.

I stayed home at first to take care of my other siblings. But a few hours later, my aunt came to take over, and I rushed to the hospital.

When I arrived, my mother was already in the delivery room. My father was with her, holding her hand.

I waited outside the delivery room with my grandparents. Every minute felt like an hour as we waited for news.

I could hear my mother screaming in pain, and it made me feel anxious. I prayed that everything would go smoothly.

After about four hours of labor, we finally heard a baby crying. The nurse came out and told us it was a healthy baby girl.

I was so relieved and happy that I started crying. My grandparents hugged each other and thanked God.

We were allowed to see my mother and the baby a few hours later. My mother looked exhausted but incredibly happy.

When I held my baby sister for the first time, I felt an overwhelming sense of love and responsibility. She was so tiny and fragile.

This experience gave me a new appreciation for my mother and all mothers in the world. I realized how much pain and sacrifice they go through to bring life into the world.

Terjemahan:

Tiga tahun lalu, saya mendapat kesempatan untuk hadir ketika ibu melahirkan adik bungsu saya. Itu pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan.

Tanggal perkiraan lahir ibu masih seminggu lagi, tapi dia mulai mengalami kontraksi pagi-pagi. Ayah langsung membawanya ke rumah sakit.

Saya tinggal di rumah dulu untuk menjaga adik-adik lain. Tapi beberapa jam kemudian, bibi datang menggantikan, dan saya bergegas ke rumah sakit.

Ketika saya tiba, ibu sudah di ruang bersalin. Ayah bersamanya, memegang tangannya.

Saya menunggu di luar ruang bersalin bersama kakek nenek. Setiap menit terasa seperti satu jam saat kami menunggu kabar.

Saya bisa mendengar ibu berteriak kesakitan, dan itu membuat saya cemas. Saya berdoa agar semuanya berjalan lancar.

Setelah sekitar empat jam persalinan, kami akhirnya mendengar tangisan bayi. Perawat keluar dan memberitahu kami bahwa itu bayi perempuan yang sehat.

Saya sangat lega dan bahagia sampai mulai menangis. Kakek nenek berpelukan dan berterima kasih kepada Tuhan.

Kami diperbolehkan melihat ibu dan bayi beberapa jam kemudian. Ibu terlihat kelelahan tapi sangat bahagia.

Ketika saya menggendong adik bayi untuk pertama kalinya, saya merasakan rasa cinta dan tanggung jawab yang luar biasa. Dia sangat mungil dan rapuh.

Pengalaman ini memberi saya apresiasi baru terhadap ibu saya dan semua ibu di dunia. Saya menyadari betapa banyak rasa sakit dan pengorbanan yang mereka lalui untuk membawa kehidupan ke dunia.

Tips Menulis Recount Text tentang Pengalaman di Rumah Sakit

Saat menulis recount text tentang pengalaman di rumah sakit, pastikan untuk mendeskripsikan kondisi, perawatan yang diterima, dan perasaanmu secara detail. Ceritakan kronologi kejadian dari awal hingga akhir dengan jelas.

Gunakan simple past tense secara konsisten dan tambahkan kata penghubung waktu untuk membuat ceritamu mengalir dengan baik. Jangan lupa untuk mengakhiri dengan refleksi tentang pelajaran yang kamu dapat dari pengalaman tersebut.

Baca Selengkapnya: 9 Recount Text Singkat tentang Liburan + Artinya

Pengalaman di rumah sakit, meskipun tidak selalu menyenangkan, memberikan pelajaran hidup yang berharga untuk diceritakan dalam recount text. Dengan berlatih menulis tentang pengalamanmu, kamu bisa meningkatkan kemampuan bahasa Inggris sambil merefleksikan momen-momen penting dalam hidupmu.

Ingin kemampuan bahasa Inggrismu semakin mahir dan percaya diri? Bergabunglah dengan Kampung Inggris Jakarta Terbaik dan nikmati pengalaman belajar yang menyenangkan bersama pengajar profesional!