Mendaki gunung adalah salah satu aktivitas liburan yang paling menantang sekaligus memuaskan. Pengalaman menaklukkan puncak gunung memberikan kenangan tak terlupakan yang layak untuk diceritakan.

Bagi kamu yang sedang belajar bahasa Inggris, menceritakan pengalaman mendaki gunung dalam bentuk recount text adalah cara yang efektif untuk melatih kemampuan menulis.

Artikel ini menyajikan 7 contoh recount text liburan ke gunung di Indonesia lengkap dengan terjemahannya.

Contoh 1: Recount Text Liburan ke Gunung Bromo

Last December, I went on an unforgettable trip to Mount Bromo in East Java with my family. We had been planning this trip for months because we wanted to see the famous sunrise at Bromo.

We arrived at Cemoro Lawang village in the evening and stayed at a small guesthouse. The temperature was very cold, around 5 degrees Celsius, so we wore thick jackets and gloves.

At 3 AM, we woke up and rode a jeep to the Penanjakan viewpoint. The road was bumpy and dusty, but we were too excited to care.

When we reached the viewpoint, hundreds of tourists were already waiting. We found a spot and waited patiently for the sunrise.

Around 5:30 AM, the sky started to change colors. The sun slowly rose behind Mount Bromo, Mount Batok, and Mount Semeru.

The golden light painted the sky in shades of orange, pink, and purple. It was the most beautiful sunrise I had ever seen.

After enjoying the sunrise, we drove down to the sea of sand. We rode horses across the sandy plain toward Mount Bromo.

Then, we climbed 250 steps to reach the crater rim. The smell of sulfur was very strong, and smoke was rising from the crater.

Looking down into the active crater was both terrifying and amazing. We spent about an hour at the crater before heading back.

The trip to Mount Bromo was a life-changing experience. I realized how beautiful Indonesia is and promised myself to explore more mountains in the future.

Terjemahan:

Desember lalu, saya melakukan perjalanan yang tak terlupakan ke Gunung Bromo di Jawa Timur bersama keluarga. Kami sudah merencanakan perjalanan ini selama berbulan-bulan karena ingin melihat matahari terbit yang terkenal di Bromo.

Kami tiba di desa Cemoro Lawang pada malam hari dan menginap di sebuah guesthouse kecil. Suhunya sangat dingin, sekitar 5 derajat Celsius, jadi kami mengenakan jaket tebal dan sarung tangan.

Jam 3 pagi, kami bangun dan naik jeep ke titik pandang Penanjakan. Jalannya bergelombang dan berdebu, tapi kami terlalu bersemangat untuk peduli.

Ketika kami sampai di titik pandang, ratusan turis sudah menunggu. Kami menemukan tempat dan menunggu dengan sabar untuk matahari terbit.

Sekitar jam 5:30 pagi, langit mulai berubah warna. Matahari perlahan terbit di belakang Gunung Bromo, Gunung Batok, dan Gunung Semeru.

Cahaya keemasan melukis langit dengan nuansa oranye, merah muda, dan ungu. Itu adalah matahari terbit paling indah yang pernah saya lihat.

Setelah menikmati matahari terbit, kami turun ke lautan pasir. Kami menunggang kuda melintasi dataran berpasir menuju Gunung Bromo.

Kemudian, kami mendaki 250 anak tangga untuk mencapai bibir kawah. Bau belerang sangat kuat, dan asap mengepul dari kawah.

Melihat ke dalam kawah yang aktif sangat menakutkan sekaligus menakjubkan. Kami menghabiskan sekitar satu jam di kawah sebelum kembali.

Perjalanan ke Gunung Bromo adalah pengalaman yang mengubah hidup. Saya menyadari betapa indahnya Indonesia dan berjanji pada diri sendiri untuk menjelajahi lebih banyak gunung di masa depan.

Contoh 2: Recount Text Liburan ke Gunung Semeru

In August last year, I accomplished my dream of climbing Mount Semeru, the highest volcano in Java. I joined a group of experienced hikers for this challenging four-day adventure.

We started our journey from Ranu Pani village early in the morning. The first day was relatively easy as we hiked through beautiful pine forests.

We passed Ranu Kumbolo, a stunning lake surrounded by hills. The water was crystal clear and reflected the blue sky perfectly.

We set up camp near the lake and cooked dinner together. That night, the sky was full of stars, and the Milky Way was clearly visible.

On the second day, we continued to Kalimati basecamp. The trail became steeper and more challenging.

We walked through savanna grasslands and rocky paths. My legs were tired, but the beautiful scenery kept me motivated.

The summit attempt started at 1 AM on the third day. We climbed in complete darkness with only headlamps to guide us.

The path was very steep, and I had to stop many times to catch my breath. The loose sand made every step difficult.

Finally, at 5:30 AM, we reached the summit of Mahameru at 3,676 meters above sea level. I cried tears of joy when I saw the sunrise from the top.

The view was breathtaking – I could see clouds below us and other mountains in the distance. Standing on the highest point in Java was the proudest moment of my life.

We carefully descended back to basecamp and then to Ranu Pani. Every muscle in my body was sore, but my heart was full of happiness.

Climbing Mount Semeru taught me that with determination and perseverance, we can achieve anything. It was the most challenging yet rewarding experience I have ever had.

Terjemahan:

Pada Agustus tahun lalu, saya mewujudkan impian mendaki Gunung Semeru, gunung berapi tertinggi di Jawa. Saya bergabung dengan sekelompok pendaki berpengalaman untuk petualangan empat hari yang menantang ini.

Kami memulai perjalanan dari desa Ranu Pani pagi-pagi sekali. Hari pertama relatif mudah karena kami mendaki melewati hutan pinus yang indah.

Kami melewati Ranu Kumbolo, danau yang menakjubkan dikelilingi bukit-bukit. Airnya jernih dan memantulkan langit biru dengan sempurna.

Kami mendirikan tenda di dekat danau dan memasak makan malam bersama. Malam itu, langit penuh bintang, dan Bima Sakti terlihat jelas.

Pada hari kedua, kami melanjutkan ke basecamp Kalimati. Jalurnya menjadi lebih curam dan menantang.

Kami berjalan melewati padang savana dan jalur berbatu. Kaki saya lelah, tapi pemandangan indah membuat saya tetap termotivasi.

Pendakian ke puncak dimulai jam 1 pagi pada hari ketiga. Kami mendaki dalam kegelapan total dengan hanya headlamp untuk memandu.

Jalurnya sangat curam, dan saya harus berhenti berkali-kali untuk mengatur napas. Pasir yang gembur membuat setiap langkah sulit.

Akhirnya, jam 5:30 pagi, kami mencapai puncak Mahameru di ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut. Saya menangis bahagia ketika melihat matahari terbit dari puncak.

Pemandangannya menakjubkan – saya bisa melihat awan di bawah kami dan gunung-gunung lain di kejauhan. Berdiri di titik tertinggi di Jawa adalah momen paling membanggakan dalam hidup saya.

Kami turun dengan hati-hati kembali ke basecamp dan kemudian ke Ranu Pani. Setiap otot di tubuh saya sakit, tapi hati saya penuh kebahagiaan.

Mendaki Gunung Semeru mengajarkan saya bahwa dengan tekad dan ketekunan, kita bisa mencapai apa saja. Itu adalah pengalaman paling menantang sekaligus paling memuaskan yang pernah saya alami.

Contoh 3: Recount Text Liburan ke Gunung Rinjani

Two years ago, I had an incredible adventure climbing Mount Rinjani in Lombok. This majestic volcano is famous for its stunning crater lake called Segara Anak.

I traveled with three of my best friends, and we hired a local guide and porter. We started our trek from Senaru village on the north side of the mountain.

The first day was a long hike through tropical rainforest. We saw monkeys swinging from trees and heard various bird songs.

After about seven hours of hiking, we reached the crater rim at 2,641 meters. The view of Segara Anak lake below was absolutely stunning.

The turquoise water of the lake contrasted beautifully with the dark volcanic rocks. In the middle of the lake, there was a small volcano called Gunung Baru.

We set up our tents on the crater rim and watched the sunset. The sky turned into a canvas of orange and red colors.

That night was freezing cold, and I could barely sleep. But the discomfort was forgotten when I saw the spectacular sunrise the next morning.

On the second day, we descended into the crater to visit the lake and hot springs. The hike down was steep and slippery.

We soaked our tired bodies in the natural hot springs near the lake. The warm water was so relaxing after the challenging trek.

Some of us even went swimming in the cold lake water. It was refreshing but extremely cold.

Climbing back up to the crater rim was exhausting. My legs felt like jelly, but I pushed through.

The descent back to Senaru took another day. By the time we reached the village, we were completely exhausted but incredibly happy.

Mount Rinjani is one of the most beautiful places I have ever visited. The experience brought me closer to nature and strengthened my friendship with my hiking buddies.

Terjemahan:

Dua tahun lalu, saya mengalami petualangan luar biasa mendaki Gunung Rinjani di Lombok. Gunung berapi megah ini terkenal dengan danau kawahnya yang menakjubkan bernama Segara Anak.

Saya bepergian dengan tiga sahabat, dan kami menyewa pemandu dan porter lokal. Kami memulai perjalanan dari desa Senaru di sisi utara gunung.

Hari pertama adalah pendakian panjang melewati hutan hujan tropis. Kami melihat monyet berayun dari pohon dan mendengar berbagai kicauan burung.

Setelah sekitar tujuh jam mendaki, kami mencapai bibir kawah di ketinggian 2.641 meter. Pemandangan danau Segara Anak di bawah sangat menakjubkan.

Air toska danau kontras indah dengan bebatuan vulkanik yang gelap. Di tengah danau, ada gunung kecil bernama Gunung Baru.

Kami mendirikan tenda di bibir kawah dan menyaksikan matahari terbenam. Langit berubah menjadi kanvas warna oranye dan merah.

Malam itu sangat dingin, dan saya hampir tidak bisa tidur. Tapi ketidaknyamanan itu terlupakan ketika saya melihat matahari terbit yang spektakuler keesokan paginya.

Pada hari kedua, kami turun ke kawah untuk mengunjungi danau dan sumber air panas. Pendakian turun curam dan licin.

Kami merendam tubuh lelah kami di sumber air panas alami dekat danau. Air hangat sangat menenangkan setelah perjalanan yang menantang.

Beberapa dari kami bahkan berenang di air danau yang dingin. Menyegarkan tapi sangat dingin.

Mendaki kembali ke bibir kawah sangat melelahkan. Kaki saya terasa seperti agar-agar, tapi saya terus berjuang.

Turun kembali ke Senaru memakan waktu satu hari lagi. Saat kami tiba di desa, kami benar-benar kelelahan tapi sangat bahagia.

Gunung Rinjani adalah salah satu tempat paling indah yang pernah saya kunjungi. Pengalaman itu membawa saya lebih dekat dengan alam dan memperkuat persahabatan dengan teman-teman pendakian saya.

Contoh 4: Recount Text Liburan ke Gunung Prau

Last June, I went on a hiking trip to Mount Prau in Central Java with my office colleagues. Mount Prau is famous for being one of the best spots to see the sunrise in Indonesia.

We chose Mount Prau because it is considered beginner-friendly compared to other mountains. The hiking trail is relatively short, taking only about four hours to reach the summit.

We arrived at Dieng Plateau in the afternoon and rested at a homestay. The temperature was already cold, around 10 degrees Celsius.

At midnight, we started our hike from Patak Banteng basecamp. The trail was dark, and we relied on our headlamps to see the path.

The hike was challenging because the trail was steep in some parts. We had to stop several times to rest and drink water.

After about four hours of hiking, we finally reached the summit at around 4 AM. We set up our mats and waited for the sunrise.

The cold wind was biting, but we stayed warm by drinking hot coffee and huddling together. Slowly, the sky started to brighten.

When the sun finally appeared, I was speechless. The golden light illuminated the sea of clouds below us.

We could see the silhouettes of Mount Sindoro and Mount Sumbing in the distance. The view was like a painting come to life.

We spent about two hours at the summit, taking pictures and enjoying the scenery. The rolling hills covered in green grass reminded me of the hills in New Zealand.

The descent was much easier and faster. We reached the basecamp by 9 AM and had breakfast at a local warung.

Mount Prau may not be the highest mountain, but its beauty is unmatched. It was the perfect introduction to hiking for my colleagues who were beginners.

Terjemahan:

Juni lalu, saya pergi mendaki ke Gunung Prau di Jawa Tengah bersama rekan kerja. Gunung Prau terkenal sebagai salah satu spot terbaik untuk melihat matahari terbit di Indonesia.

Kami memilih Gunung Prau karena dianggap ramah untuk pemula dibandingkan gunung lainnya. Jalur pendakian relatif pendek, hanya memakan waktu sekitar empat jam untuk mencapai puncak.

Kami tiba di Dataran Tinggi Dieng pada sore hari dan beristirahat di sebuah homestay. Suhunya sudah dingin, sekitar 10 derajat Celsius.

Tengah malam, kami memulai pendakian dari basecamp Patak Banteng. Jalurnya gelap, dan kami mengandalkan headlamp untuk melihat jalan.

Pendakian menantang karena jalurnya curam di beberapa bagian. Kami harus berhenti beberapa kali untuk istirahat dan minum air.

Setelah sekitar empat jam mendaki, kami akhirnya mencapai puncak sekitar jam 4 pagi. Kami menggelar tikar dan menunggu matahari terbit.

Angin dingin menggigit, tapi kami tetap hangat dengan minum kopi panas dan berkumpul bersama. Perlahan, langit mulai terang.

Ketika matahari akhirnya muncul, saya tidak bisa berkata-kata. Cahaya keemasan menyinari lautan awan di bawah kami.

Kami bisa melihat siluet Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing di kejauhan. Pemandangannya seperti lukisan yang hidup.

Kami menghabiskan sekitar dua jam di puncak, mengambil foto dan menikmati pemandangan. Bukit-bukit bergulung yang ditutupi rumput hijau mengingatkan saya pada bukit-bukit di Selandia Baru.

Turunnya jauh lebih mudah dan cepat. Kami sampai di basecamp jam 9 pagi dan sarapan di warung lokal.

Gunung Prau mungkin bukan gunung tertinggi, tapi keindahannya tiada tanding. Itu adalah pengenalan yang sempurna untuk mendaki bagi rekan kerja saya yang pemula.

Contoh 5: Recount Text Liburan ke Gunung Merbabu

During the Eid holiday last year, I climbed Mount Merbabu with my hiking community. Mount Merbabu is located next to Mount Merapi and offers stunning views of its famous neighbor.

We chose the Selo route, which is the most popular trail. We started our hike at 10 PM to reach the summit before sunrise.

The first part of the trail passed through vegetable farms and small villages. The local farmers were friendly and greeted us along the way.

As we climbed higher, the vegetation changed to alpine meadows. The trail was well-marked, and we followed the signs easily.

Around 2 AM, we reached Pos 3 and took a short break. The wind was getting stronger, and the temperature dropped significantly.

The final stretch to the summit was the most challenging. The trail was rocky and exposed to strong winds.

We had to lean into the wind to keep our balance. Some of my friends were blown off their feet a few times.

At 4:30 AM, we reached the summit of Mount Merbabu at 3,145 meters. We immediately set up our tents as windbreakers.

The sunrise from Mount Merbabu was spectacular. We watched as the sun rose behind Mount Merapi, which was releasing a small plume of smoke.

The view of Mount Merapi from Merbabu was incredible. We could see the entire volcano, including its famous lava dome.

We also saw Mount Lawu, Mount Sumbing, and Mount Sindoro in the distance. It felt like we were standing on top of the world.

After the sunrise, we explored the summit area and visited Kenteng Songo, a sacred site with ancient stones. The descent was enjoyable as we could finally see the beautiful landscape that we had missed in the dark.

Mount Merbabu will always hold a special place in my heart. It was a perfect combination of challenge and beauty.

Terjemahan:

Selama libur Lebaran tahun lalu, saya mendaki Gunung Merbabu bersama komunitas pendaki saya. Gunung Merbabu terletak di sebelah Gunung Merapi dan menawarkan pemandangan menakjubkan dari tetangganya yang terkenal.

Kami memilih jalur Selo, yang merupakan jalur paling populer. Kami memulai pendakian jam 10 malam untuk mencapai puncak sebelum matahari terbit.

Bagian pertama jalur melewati ladang sayur dan desa-desa kecil. Para petani lokal ramah dan menyapa kami sepanjang jalan.

Saat kami mendaki lebih tinggi, vegetasi berubah menjadi padang rumput alpine. Jalurnya ditandai dengan baik, dan kami mengikuti tanda-tanda dengan mudah.

Sekitar jam 2 pagi, kami mencapai Pos 3 dan beristirahat sejenak. Angin semakin kencang, dan suhu turun drastis.

Bagian terakhir menuju puncak adalah yang paling menantang. Jalurnya berbatu dan terpapar angin kencang.

Kami harus mencondongkan badan ke angin untuk menjaga keseimbangan. Beberapa teman saya tertiup dan hampir jatuh beberapa kali.

Jam 4:30 pagi, kami mencapai puncak Gunung Merbabu di ketinggian 3.145 meter. Kami langsung mendirikan tenda sebagai penahan angin.

Matahari terbit dari Gunung Merbabu sangat spektakuler. Kami menyaksikan matahari terbit di belakang Gunung Merapi, yang mengeluarkan kepulan asap kecil.

Pemandangan Gunung Merapi dari Merbabu luar biasa. Kami bisa melihat seluruh gunung berapi, termasuk kubah lavanya yang terkenal.

Kami juga melihat Gunung Lawu, Gunung Sumbing, dan Gunung Sindoro di kejauhan. Rasanya seperti kami berdiri di puncak dunia.

Setelah matahari terbit, kami menjelajahi area puncak dan mengunjungi Kenteng Songo, situs sakral dengan batu-batu kuno. Turunnya menyenangkan karena kami akhirnya bisa melihat pemandangan indah yang kami lewatkan dalam kegelapan.

Gunung Merbabu akan selalu memiliki tempat khusus di hati saya. Itu adalah kombinasi sempurna antara tantangan dan keindahan.

Contoh 6: Recount Text Liburan ke Gunung Papandayan

Last weekend, I went on a spontaneous trip to Mount Papandayan in Garut, West Java. This volcano is known for its easy hiking trail and beautiful sulfur craters.

I drove from Bandung with my cousins, and the journey took about three hours. We arrived at the parking area around 8 AM.

Unlike most mountains, Mount Papandayan can be accessed by car almost to the crater area. We only needed to hike for about 30 minutes to reach the first crater.

The trail was paved and very easy to walk on. Even children and elderly visitors could enjoy this hike.

When we reached the crater area, I was amazed by the landscape. There were several active fumaroles releasing hot steam and sulfuric gases.

The ground was covered in yellow sulfur deposits, and the air smelled like rotten eggs. We had to cover our noses with masks to breathe comfortably.

We walked carefully along the designated path, staying away from the dangerous areas. The hot steam was shooting up from the ground in several spots.

After exploring the craters, we continued hiking to Pondok Salada campsite. The trail passed through a beautiful dead forest called Hutan Mati.

The dead trees created an eerie but photogenic atmosphere. We took many pictures with the unique backdrop.

At Pondok Salada, we rested and enjoyed the fresh mountain air. The meadow was covered in edelweiss flowers, which are protected and cannot be picked.

We had packed lunch by the meadow, surrounded by stunning mountain views. The weather was perfect – sunny but not too hot.

We returned to the parking area in the afternoon, feeling refreshed and happy. Mount Papandayan is perfect for those who want to experience volcanic landscapes without a strenuous hike.

Terjemahan:

Akhir pekan lalu, saya melakukan perjalanan spontan ke Gunung Papandayan di Garut, Jawa Barat. Gunung berapi ini dikenal dengan jalur pendakian yang mudah dan kawah belerang yang indah.

Saya berkendara dari Bandung bersama sepupu-sepupu, dan perjalanan memakan waktu sekitar tiga jam. Kami tiba di area parkir sekitar jam 8 pagi.

Berbeda dengan kebanyakan gunung, Gunung Papandayan bisa diakses dengan mobil hampir sampai area kawah. Kami hanya perlu mendaki sekitar 30 menit untuk mencapai kawah pertama.

Jalurnya sudah diaspal dan sangat mudah untuk dilalui. Bahkan anak-anak dan pengunjung lansia bisa menikmati pendakian ini.

Ketika kami mencapai area kawah, saya takjub dengan pemandangannya. Ada beberapa fumarola aktif yang mengeluarkan uap panas dan gas belerang.

Tanah ditutupi endapan belerang kuning, dan udaranya berbau seperti telur busuk. Kami harus menutup hidung dengan masker untuk bernapas dengan nyaman.

Kami berjalan hati-hati di sepanjang jalur yang ditentukan, menjauhi area berbahaya. Uap panas menyembur dari tanah di beberapa titik.

Setelah menjelajahi kawah, kami melanjutkan pendakian ke camping ground Pondok Salada. Jalurnya melewati hutan mati yang indah bernama Hutan Mati.

Pohon-pohon mati menciptakan suasana menyeramkan tapi fotogenik. Kami mengambil banyak foto dengan latar belakang yang unik.

Di Pondok Salada, kami beristirahat dan menikmati udara pegunungan yang segar. Padang rumput ditutupi bunga edelweiss, yang dilindungi dan tidak boleh dipetik.

Kami makan siang bekal di padang rumput, dikelilingi pemandangan gunung yang menakjubkan. Cuacanya sempurna – cerah tapi tidak terlalu panas.

Kami kembali ke area parkir pada sore hari, merasa segar dan bahagia. Gunung Papandayan sempurna untuk mereka yang ingin mengalami pemandangan vulkanik tanpa pendakian yang melelahkan.

Contoh 7: Recount Text Liburan ke Gunung Gede Pangrango

During my college years, I climbed Mount Gede Pangrango in West Java as part of a nature conservation project. This twin volcano is located in a national park and is home to diverse wildlife.

We started our hike from Cibodas entrance, which is famous for its beautiful botanical garden. The first few kilometers passed through lush tropical rainforest.

The forest was alive with sounds of birds and insects. We spotted several species of birds, including the endangered Javan Hawk-Eagle.

Our guide taught us about the various plants and trees in the forest. I learned to identify different types of ferns, orchids, and moss.

After about five hours of hiking, we reached the hot springs called Air Panas. We soaked our feet in the warm water to relax our tired muscles.

We continued to Kandang Badak shelter, where we set up camp for the night. The shelter was basic but provided protection from the cold wind.

At 2 AM, we started our summit push to Mount Gede. The trail was steep and covered with tree roots.

We reached the summit just in time for sunrise. The view of the crater below was mesmerizing.

Steam rose from the crater floor, creating a mystical atmosphere. We could see all the way to Jakarta and the Java Sea.

After descending from Mount Gede, we decided to also climb Mount Pangrango. The trail connecting the two peaks was beautiful.

Mount Pangrango summit was covered in edelweiss flowers. We felt like we were in a fairy tale garden.

The entire trek took three days and two nights. It was physically demanding but incredibly rewarding.

Mount Gede Pangrango taught me the importance of conservation. The experience inspired me to become more active in protecting our natural heritage.

Terjemahan:

Selama masa kuliah, saya mendaki Gunung Gede Pangrango di Jawa Barat sebagai bagian dari proyek konservasi alam. Gunung berapi kembar ini terletak di taman nasional dan merupakan rumah bagi beragam satwa liar.

Kami memulai pendakian dari pintu masuk Cibodas, yang terkenal dengan kebun rayanya yang indah. Beberapa kilometer pertama melewati hutan hujan tropis yang lebat.

Hutan hidup dengan suara burung dan serangga. Kami melihat beberapa spesies burung, termasuk Elang Jawa yang terancam punah.

Pemandu kami mengajari kami tentang berbagai tanaman dan pohon di hutan. Saya belajar mengidentifikasi berbagai jenis pakis, anggrek, dan lumut.

Setelah sekitar lima jam mendaki, kami mencapai sumber air panas bernama Air Panas. Kami merendam kaki di air hangat untuk melemaskan otot yang lelah.

Kami melanjutkan ke shelter Kandang Badak, di mana kami mendirikan tenda untuk malam itu. Shelternya sederhana tapi memberikan perlindungan dari angin dingin.

Jam 2 pagi, kami memulai pendakian ke puncak Gunung Gede. Jalurnya curam dan ditutupi akar pohon.

Kami mencapai puncak tepat waktu untuk matahari terbit. Pemandangan kawah di bawah sangat memesona.

Uap naik dari dasar kawah, menciptakan suasana mistis. Kami bisa melihat sampai ke Jakarta dan Laut Jawa.

Setelah turun dari Gunung Gede, kami memutuskan untuk juga mendaki Gunung Pangrango. Jalur yang menghubungkan kedua puncak sangat indah.

Puncak Gunung Pangrango ditutupi bunga edelweiss. Kami merasa seperti berada di taman dongeng.

Seluruh perjalanan memakan waktu tiga hari dua malam. Secara fisik menuntut tapi sangat memuaskan.

Gunung Gede Pangrango mengajarkan saya pentingnya konservasi. Pengalaman itu menginspirasi saya untuk lebih aktif dalam melindungi warisan alam kita.

Tips Menulis Recount Text tentang Liburan ke Gunung

Saat menulis recount text tentang pengalaman mendaki gunung, pastikan untuk menyertakan detail spesifik tentang perjalananmu. Deskripsikan pemandangan, cuaca, tantangan yang dihadapi, dan perasaanmu sepanjang perjalanan.

Gunakan simple past tense secara konsisten dan tambahkan kata penghubung waktu untuk membuat ceritamu mengalir dengan baik. Jangan lupa untuk mengakhiri dengan refleksi personal tentang apa yang kamu pelajari dari pengalaman tersebut.

Baca Selengkapnya: 9 Recount Text Singkat tentang Liburan + Artinya

Mendaki gunung memberikan pengalaman yang tak terlupakan dan bahan cerita yang menarik untuk recount text. Dengan berlatih menulis tentang pengalamanmu mendaki, kamu bisa meningkatkan kemampuan bahasa Inggris sambil mengabadikan kenangan petualanganmu.

Ingin kemampuan bahasa Inggrismu semakin mahir? Bergabunglah dengan Kampung Inggris Jakarta Terbaik dan rasakan pengalaman belajar yang menyenangkan bersama pengajar profesional!